Berikut ini adalah kata pengantar yang akan dimuat di buklet A Night at Schouwburg, dobel album Naif yang merupakan rekaman dari konser yang mereka adakan di Gedung Kesenian Jakarta pada 20 September lalu. Albumnya sendiri akan dijual dalam format limited edition premium package seharga Rp 150.000 yang juga akan berisi kaus, pin dan merchandise eksklusif lainnya, dan hanya akan dicetak 500 kopi yang diberi nomor seri. Hubungi 085695588077 untuk pre-order album ini, dan bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, barang bisa diambil pada acara ulang tahun Naif yang ke-13 pada tanggal 22 Oktober malam di Hard Rock Cafe, Plaza EX, Jakarta. Album dapat dibeli di tempat juga, jika stok masih ada. Selamat membaca.
 Sekilas Tentang Malam Itu
Oleh Hasief Ardiasyah
Naif gila.Rasanya kata-kata itu sudah sering terlontar sepanjang karier band yang kini memasuki tahunnya yang ke-13. Biasanya Naif dibilang gila karena aksi panggungnya yang enerjik dan menghibur, khususnya David sang vokalis dengan gaya dan celotehannya yang provokatif dan selalu membuat terpingkal-pingkal. Kata-kata itu juga berlaku pada tanggal 20 September 2008, ketika Naif mengadakan sebuah konser istimewa di Gedung Kesenian Jakarta. Akan tetapi, kegilaan itu tak hanya sebatas atraksi yang ada di atas panggung. Sebenarnya Naif sudah lama ingin mengadakan konser di GKJ, gedung pertunjukan legendaris yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Namun karena satu dan lain hal, keinginan itu tak kunjung terwujud hingga akhir Agustus, di mana Naif mendapat tawaran untuk tampil sebulan kemudian di Festival Schouwburg, dalam rangka perayaan ulang tahun GKJ yang ke-21. Walau demikian, kesenangan atas tercapainya sebuah keinginan lama diimbangi oleh berbagai hambatan. Pertama, Naif tidak dibayar untuk tampil di GKJ, dan sebagian besar biaya produksi ditanggung mereka sendiri. Selain itu, keterbatasan waktu membuat segala bentuk persiapan menjadi serba terburu-buru, termasuk promosi, pematangan konsep acara dan latihan. Belum lagi faktor bulan Ramadan, yang membuat waktu latihan pun terbatas. Dalam kondisi seperti ini, belum tentu band lain mau jalan terus. Namun pada malam itu Naif membuktikan bahwa mereka bukan seperti band lain, dan rasanya siapapun yang hadir di sana akan merasakan hal tersebut, walau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di balik layar. Saya termasuk salah satu dari sekian ratus orang yang beruntung, yang datang ke GKJ dengan tujuan menyaksikan grup dengan reputasi sebagai salah satu band panggung terbaik di Indonesia bermain dalam konteks yang langka, yakni konser intim di sebuah gedung yang memang dirancang khusus untuk mengadakan pertunjukan kesenian. Dengan kata lain, bukan kafe, gelanggang olah raga, balai pameran atau tempat-tempat lain yang kerap dijadikan lokasi acara-acara musik walau sebenarnya tidak layak karena berbagai alasan, seperti akustik ruangan yang tidak memadai. Tak habis pikir mengapa tak ada lebih banyak gedung pertunjukan kesenian sekelas GKJ di kota Jakarta, yang dapat membuat suasana lebih nyaman dan menyenangkan bagi penonton maupun artis di atas panggung. Heran juga mengapa tak lebih banyak artis musik populer mengadakan konser di GKJ. Tetapi sejujurnya, sebelum konser Naif dimulai, saya sempat khawatir. Karena format konsernya adalah semi-akustik dan gedung pertunjukan itu mengundang suasana formal di mana setiap penonton duduk, maka ada kemungkinan energi liar yang menjadi ciri khas aksi panggung mereka akan hilang. Energi itu memang tak begitu terasa ketika Naif akhirnya naik ke panggung dengan seragam jas coklat dan kacamata hitam, serta duduk di atas bangku-bangku sambil memulai dengan medley "Piknik '72/Johan & Enny/Janji Setia/Rumah Yang Yahud". David pun tak banyak bicara, tak seperti biasanya. "Grogi manggung di sini," kata David setelah membawakan lagu kedua, "Jikalau". Tapi ibarat mesin mobil dalam kondisi prima, setelah awal yang pelan itu, tak butuh waktu lama bagi Naif untuk mencapai kecepatan tinggi. Dua jam kemudian, Naif mengakhiri konser yang terdiri dari 24 lagu mereka yang terkenal maupun jarang dibawakan. "Eh, thank you ya, yang udah rela-relain bayar gocap buat nonton ginian doang," kata David. Tampaknya dari sambutan standing ovation yang meriah di akhir konser, bukan mustahil hadirin rela bayar lebih dari Rp 50.000 demi menontonnya. Album yang Anda pegang sekarang ini adalah dokumentasi dari konser itu. Jika Anda hadir di sana, album ini akan menjadi kenangan dalam bentuk lebih konkret. Setelah mendengarnya, Anda mungkin akan merasa konsernya lebih bagus atau bahkan lebih buruk dari apa yang Anda ingat. Sebaliknya, kalau Anda tak hadir, album ini merupakan cara terbaik untuk membawa Anda ke sana, kecuali jika ada mesin waktu atau DVD dari konser ini. Anda akan bisa tahu sendiri mengapa banyak penonton menyebut ini sebagai konser lokal terbaik di tahun 2008, atau merasa bahwa semua itu adalah pujian berlebihan. Yang pasti, apa yang Anda dengar di album ini kurang lebih adalah apa yang terdengar pada malam itu. Atau, mengutip Emil sang bassis dan konseptor konser ini, "Ini adalah album live paling jujur." Bagi yang belum tahu, banyak rekaman konser yang dijadikan album telah dipercantik dan disempurnakan di studio sebelum diedarkan kepada publik. Lain halnya dengan A Night at Schouwburg, di mana kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam konser dapat didengar kalau kita tahu di mana harus mencarinya. Namun di sisi lain, Anda juga akan menyimak berbagai momen ajaib, seperti "Di Mana Aku Di Sini" yang mengharukan dalam versi minimalis yang hanya terdiri dari gitar akustik Jarwo, cello dan suara David yang penuh penghayatan. Anda bisa mendengar suara takjub penonton ketika akhirnya mengenali "Posesif", salah satu hit terbesar Naif, yang dipersembahkan dengan aransemen yang dirombak sehingga benar-benar berbeda dari versi aslinya. Simak juga "Penari Langit" dan "Pujaan Hati", yang diperkaya dengan beberapa pemain keroncong. Selain itu, Marusya Nainggolan, direktur GKJ, turut menyumbang permainan piano kelas dunia pada "Katakan Iya" dan "Nyali".Semuanya disajikan dengan spontanitas dan humor yang selalu menjadi ciri khas penampilan Naif. Mereka enggan disebut band lawak, tapi sangat susah untuk menahan ketawa saat mendengar David dengan cekatan membalas celetukan dari penonton, mencoba berbahasa Inggris dengan John A. Heffern, Wakil Duta Besar Amerika Serikat yang turut menonton, atau berlagak kebingungan Pepeng sang drummer hanya berkata "Es teler!" saat diperkenalkan. Bahkan seorang pelawak sekelas Tika Panggabean, yang menonton bersama rekan-rekannya di grup komedi musikal Project Pop, terdorong untuk berteriak menjelang akhir konser, "Ulang lagi dari awal!"Lewat A Night at Schouwburg, permintaan Tika itu bisa dikabulkan. Nikmati album ini. Nikmati kegilaan Naif.
 | langsung cepet2 telp supaya yakin dapet CD ini deh. |
 | I wish I knew what was on Heffern's mind, :) |
 | The Best Concert of The Year. Terharu gue nonton konser ini. Super Keren! |
 | mong-ngomong, DVD konser ini udah ada belum ya? Gua gak sempet nonton di GKJ! |
 | Mudah-mudahan ada. Gua denger di CD kayaknya top banget. Musiknya top, kocaknya top. |
| |